Tempat Terendah? (Penggalan Bayyinah Access 3)
Tepat setelah menyelesaikan Bayyinah Access 2 (BA2), sebenarnya saya langsung tancap gas daftar Bayyinah Access 3 (BA3). Namun karena beberapa hal, pengalaman tentang BA3 baru bisa saya tuliskan sekarang, setahun setelah tulisan tentang BA2 rilis, hihi.. maafkan 😀 Semangat untuk menuliskannya juga baru muncul akhir-akhir ini, bertepatan dengan Ramadhan dan prosesi wisuda saya dari Bayyinah minggu lalu. Ada semacam hutang untuk berbagi pengalaman, sehingga teman-teman yang ingin mengikuti program yang sama, bisa mendapatkan gambaran sebelum mendaftar.
Alasan yang melatarbelakangi kenapa saya lama gak nulis sebetulnya simpel saja, saya harus beradaptasi dengan bocil yang lahir seminggu setelah batas waktu pengumpulan tugas akhir BA3 dan, yang lebih utama, menurut saya dulu, gak ada yang menarik yang bisa diceritakan dari BA3, haha. Serius, sepanjang program hampir gak ada penambahan materi baru. BA3 emang dirancang sebagai latihan untuk aplikasi ilmu yang udah didapat di level sebelumnya. Jadi kerjaannya ngapain? Sepanjang tiga bulan itu, tiga kali seminggu, saya dan teman-teman berlatih “menggondrongi” tulisan Arab gundul, wahaha! Teks yang dipakai utamanya ada dua, kisah nabi-nabi dan nukilan tafsir yang diberikan oleh instruktur. Pegel bok membubuhkan harakat itu 🙂 Jelas ya, jadi cerita saya selanjutnya gak menjelaskan BA3 secara detil, seperti penjelasan tentang BA2 di tulisan sebelumnya.
Episode yang ingin saya bagi kali ini adalah tentang kisah saya dalam menerjemahkan surat At-Tiin. Kebetulan salah satu tugas yang diberikan adalah menerjemahkan surat-surat pilihan dari Juz ‘Amma beserta tafsir singkatnya. Sampai ayat keempat masih oke, terus saya mentok di ayat kelima. Berikut saya nukilkan ayat tersebut.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ
Saya gak bisa mengartikan frasa terakhir (أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ). Bukan karena gak tahu artinya apa, namun lebih karena kedudukan dalam kalimatnya seperti apa, saya gagal menebak. Saat saya coba intip terjemah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggrisnya, menurut saya terjemah tersebut kurang pas, tanpa mengurangi rasa hormat kepada tim penerjemah tentunya. Adapun terjemah Bahasa Indonesia berbunyi seperti ini, “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (red: paling rendah) (neraka),” sementara dalam Bahasa Inggris, “Then We return him to the lowest of the low.” Jika terjemah yang dimaksudkan berbunyi demikian, menurut yang saya pelajari di level sebelumnya, maka seharusnya frasa tersebut berbunyi “أَسْفَلَ السَّافِلِيْنَ”. Nah, jadi ada alif-lam yang hilang dari pernyataan ini.
Ketika membahas ini di kelas dengan tutor saya, Ustadz Aarij, kecurigaan saya tervalidasi, hehe. Beliau juga berpendapat bahwa frasa ini gak bisa diartikan demikian karena minus alif-lam di sana. Setelah berdiskusi panjang-lebar berikut pancingan dari sang ustadz, akhirnya kelas kami menyimpulkan bahwa “أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ” itu bukanlah frasa seperti dugaan kami di awal, namun dua kata yang saling lepas. “أَسْفَلَ” di sini gak diartikan sebagai bentuk superlatif seperti yang disebut di dalam terjemahan (bentuk “paling” atau “ter..”), namun diterjemahkan sebagai bentuk komparatif (bentuk “lebih”). Jadi harusnya terjemahan tersebut berbunyi, “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang lebih rendah.”
Nah, terus gimana dengan arti “سَافِلِيْنَ” tanpa alif-lam? Menurut ijtihad kelas, kata “سَافِلِيْنَ” berkedudukan sebagai haal dalam Bahasa Arab atau adverb dalam Bahasa Inggris, dan saya bingung padanannya dalam Bahasa Indonesianya apa, hihi. Intinya mah keterangan cara melakukan sesuatu. Dalam contoh kalimat, “Dia berjalan dengan lambat,” “dengan lambat” merupakan keterangan cara orang tersebut berjalan. Dengan kata lain “dengan lambat” itulah haal-nya. Dengan demikian, untuk ayat tersebut kami melakukan terjemahan lepasnya seperti ini, “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang lebih rendah, dengan (terus turun ke tempat yang) rendah”.
***
Gara-gara teringat momen tersebut, pikiran saya jadi mengembara ke mana-mana.
Beberapa tahun terakhir seiring dengan pamor media sosial yang meningkat, sepengamatan saya, perang pemikiran semakin gencar dilakukan. Saya pernah berbagi kecemasan saya ke Dian, bahwa kalau kita gak bener-bener punya pedoman, kita bisa terombang-ambing dalam perang opini dan gampang mengiyakan sesuatu yang sebenarnya bisa jadi bertentangan dengan pedoman kita tersebut.
Contohnya, dalam menghadapi dunia yang (di mata kita) gak adil. Adanya perang, pemimpin yang zalim, dan harga kebutuhan pokok yang semakin mencekik leher bisa membuat sebagian orang menafikan keberadaan Tuhan. Kalau ada dan Maha Kuasa, kenapa juga Tuhan ini gak bisa mengintervensi kemalangan yang menimbulkan kesengsaraan umat manusia tersebut?
Akan tetapi, bagi orang beriman yang akalnya dibimbing oleh wahyu, mereka menyadari bahwa nestapa di dunia ini akan diimbangi oleh adanya hari pengadilan setelah kiamat. Inilah poin yang gak dimiliki oleh kelompok sebelumnya, karena mereka gak percaya akan adanya hari pembalasan. Adapun kejadian-kejadian di dunia, artinya bisa bermacam-macam. Bagi orang beriman, kemalangan yang menimpa bisa berarti penghapus dosa juga ujian. Allah sih bisa-bisa aja menghilangkan kesulitan atas orang beriman, namun Allah ingin menguji mana orang yang benar-benar beriman mana juga yang cuma servis bibir aja. Lain lagi untuk orang zalim, meskipun kelihatannya di dunia ini dia bisa ongkang-ongkang kaki, namun jika gak bertaubat sebelum meninggal, bersiaplah menerima catatan amalan dari tangan kiri.
Konsekuensi logis dari percaya akan adanya hari pengadilan adalah percaya akan adanya eksistensi surga dan neraka sebagai balasan atas apa yang terjadi selama di dunia. Surga dan neraka adalah konsekuensi putusan Allah sebagai hakim. Walaupun keputusan yang dibuat tetaplah hak preogratif Allah semata, namun di Quran Allah telah memberi kisi-kisi, siapakah orang-orang yang berpotensi masuk surga dan siapakah orang-orang yang kemungkinan diazab neraka. Tugas kita adalah menjalankan kisi-kisi tersebut dengan tulus, seoptimal mungkin, dan dengan cara yang ditunjukkan oleh junjungan kita, Muhammad Rasulullah.
Setahun atau dua tahun yang lalu saya mendengar, ada seorang kenalan Muslim yang semakin menjauh dari Islam karena kurang sreg dengan ajaran Islam. Usut punya usut, akhirnya saya tahu bahwa orang tersebut menjauh karena ajaran Islam yang sampai kepadanya isinya kebanyakan soal azab melulu. Dia mulai mendekat ke ajaran agama lain yang lebih menekankan cinta kasih dan teman-temannya sesama Muslim juga gak dapat berbuat banyak untuk meyakinkan orang tersebut kembali meniti jalan keislaman.
Saat mendapati kabar tersebut, saya jadi introspeksi. Bisa jadi ini salah kita sebagai komunitas yang gak imbang mengabarkan isi Quran ke teman-teman kita sendiri. Ketidakseimbangan yang berakar dari kurangnya pemahaman tentang Quran atau kemampuan komunikasi yang minim. Okelah, kalau soal komunikasi, ente-ente bisa googling sendiri lah ya, gimana cara yang tokcer dan persuasif buat merebut hati orang, hihi. Di sini saya cuma mau kasih contekan, gimana Quran berbicara soal azab berdasarkan apa yang saya pahami dari At-Tiin: 5 tadi.
Di ayat sebelumnya, Allah berkata bahwa Ia menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Maknanya, manusia secara fitrah diciptakan dengan posisi yang baik, memiliki potensi kebaikan, dan catatan dosanya bersih. Hanya saja, karena dosanya selama di dunia, kedudukan manusia bisa merosot di hadapan Allah seiring dengan kesalahan yang ia perbuat, itulah inti dari ayat kelima. Yang harus digarisbawahi di sini adalah, saat manusia berbuat dosa, kedudukan manusia (di dalam neraka) akan menurun secara gradual, gak langsung serta-merta ditaruh di kerak neraka untuk mendapatkan azab yang paling pedih, itulah maksud dari penghilangan alif-lam dalam frasa “أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ”.
Kalau dilihat dari sini sih sebenarnya Allah itu super baik! Pertama, Allah gak menciptakan kita dengan dosa awal atau dosa warisan, sehingga setiap bayi yang lahir itu bersih catatan amalnya dari dosa. Kedua, kalaupun berbuat dosa, manusia akan dikenai azab sesuai amal buruk yang dia lakukan. Masyaallah.. segitu sayangnya Allah sama kita sampai untuk menghukum hamba-Nya yang bandel aja Allah cermat banget :”) Belum lagi, kalau lihat ayat lain, Allah mah cintaaa banget sama hambanya yang bertaubat (3: 133). Artinya kan Allah tuh mendorong hamba-Nya untuk masuk surga, bukan diazab di neraka kan ya?
Meskipun Allah menyemangati umat manusia untuk ke surga, namun tetap, adanya azab dan neraka itu gak bisa dinafikan, sebagai balasan bagi orang zalim yang belum impas balasannya di dunia maupun sebagai pengingat bagi orang beriman supaya gak disengajain berbuat dosa. Itulah pola pikir seimbang yang sebagai Muslim harusnya kita miliki, sehingga saat kita menjelaskan kepada orang lain, kita terhindar dari omongan yang terlalu berat sebelah; menggembor-gemborkan azab tanpa membawa rahmat illahi yang begituuu luasnya.
Mungkin Ramadhan ini momentum yang pas untuk intrsopeksi, sudah adilkah kita dalam berbicara, terutama dalam mengingatkan teman kita sesama Muslim. Semoga kita dimampukan untuk saling mengingatkan tentang azab dan neraka dengan kadar yang tepat, seperti Allah yang menghilangkan alif-lam karena rasa sayang yang begitu besar terhadap hamba-hamba-Nya.
Wallahua’lam bisshawab
Advertisements